Pages

anemia pada ibu hamil

Kamis, 16 September 2010

Anemia adalah suatu keadaan dengan kadar hemoglobin yang lebih rendah dari nilai normal (Emma Wirakusumah, 1999). Anemia pada ibu hamil terjadi bila kadar hemoglobinnya (Hb) dibawah 11 gr/dlBAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perawat merupakan bagian komponen pembangunan dibidang kesehatan. Oleh karena itu perawat sekaligus merupakan integral dari sistim kesehatan yang memberikan pelayanan esensial dalam meningkatkan kesehatan yang optimal.
Proses persalinan mengakibatkan perdarahan, bila perdarahan yang timbul banyak, pada ibu hamil yang mengalami anemia maka sang ibu akan sangat kekurangan darah. Bila tidak cepat ditangani akan timbul berbagai penyakit seperti penyakit jantung. Anemia berat juga dapat menganggu pertumbuhan janin. Ibu hamil dikatakan anemia jika kadar Hb dibawah 11 gr/dl.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Agar perawat dapat memberikan askep sesuai dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang ada melalui pendekatan keperawatan Anemia.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dalam penulisanlaporna ini adalah :
a. Dapat melalukan pengkajian dengan Anemia pada ibu hamil
b. Dapat merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan Anemia pada ibu hamil
c. Dapat menyusun intervensi untuk memenuhi kebutuhan klien dengan prioritas masalah
d. Dapat melakukan tindakan keperawatan dan evaluasi yang telah direncanakan

BAB II
KONSEP DASAR

A. Definisi
Anemia adalah suatu keadaan dengan kadar hemoglobin yang lebih rendah dari nilai normal (Emma Wirakusumah, 1999). Anemia pada ibu hamil terjadi bila kadar hemoglobinnya (Hb) dibawah 11 gr/dl.
Wanita hamil atau dalam masa nifas dinyatakan menderita anemia bila kadar hemoglobin dibawah 10 gr/dl perubahan fisiologis yang terjadap pada kehamilan sering menyulitkan diagnosis dan penatalaksanaan penyakit-penyakit kelainan darah. Penurunan kadar Hb pada wanita hamil sehat yang hamil disebabkan ekspansi volume plasma yang lebih besar daripada peningkatan volume sel darah merah dan hemoglobin. Hal ini terutama terjadi pada trimester kedua.
Pada akhir kehamilan ekspansi plasma menurun sementara hemoglobin terus meningkat pada saat nifas bila tidak terjadi kehilangan darah dalam jumlah besar, konsistensi hemoglobin tidak berbeda dengan saat hamil. Biasanya hal ini bertahan selama beberapa hari sebelum akhirnya meningkatkan kenilai sebelum hamil.

B. Pembagian Anemia
1. Anemia Defisiensi Besi
Pemeriksaan awal yang dilakukan adalah pemeriksaan darah tepi lengkap sediaan apus darah tepi, pengukuran konsentrasi besi serum dan atau penitin serum. Gambaran morfologi eritrosit mikrositik hipokrum lebih jarang ditemukan pada wanita hamil daripada wanita biasa dengan Hb yang sama.

2. Anemia Akibat Perdarahan
Lebih jelas ditemukan dimasa nifas dapat disebabkan plasenta previa atau solusio plasenta atau anemia sebelum melahirkan, sering disebabkan aborsi, kehamilan ektopik dan mola hidatidosa.
3. Anemia Megaloblastik
Biasanya disebabkan defisiensi asam folat, akibat kurang mengkonsumsi sayuran hijau, segar atau makanan dengan protein hewan tinggi.

C. Etiologi
Anemia kehamilan disebabkan oleh penyakit :
Yang didapat : Anemia defisiensi besi, anemia akibat perdarahan, anemia akibat radang atau keganasan, anemia megaloblastik, anemia hemolitik didapat, anemia aplstik atau hipoplastik.
Yang diturunkan /herediter : talasemia, hemoglobinopati sel sabit, hemoglobinopati lain, anemia hemolitik herediter.
Dan penyebab yang paling sering ditemukan : defisiensi besi dan perdarahan.

D. Patofisiologi
Wanita memerlukan zat besi lebih tinggi dari laki-laki karena terjadi dengan perdarahan 50 sampai 80 cc dan kehamilan dengan zat besi sebesar 30 sampai 40 mgr, kehamilan membutuhkan tambahan zat besi untuk meningkatkan sel darah merah dan sel darah merah janin, jika cadangan Fe minimal maka akan mengurangi persendian Fe akibatnya terjadi anemia pada kehamilan berikutnya.

E. Manifestasi Klinis
1. Merasa cepat lelah
2. Sering pusing
3. Mata berkurang-kunang
4. Keluhan mual-muntah pada masa hamil muda.

F. Penatalaksanaan
1. Anemia Defisiensi Besi :
Pemberian Fe sulfat, fumarat atau glukosa secara oral dengan dosis 1 x 200 mg, tidak perlu diberikan asam askorbat atau sari buah jika tidak dapat secara oral berikan secara parenterak. Untuk memenuhi cadangan besi, berikan terapi sampai 3 bulan setelah anemia diperbaiki.
2. Anemia Akibat Perdarahan
Atasi perdarahan untuk mempertahankan perfusi organ vital. Setelah hips volume teratasi dan hemostasis tercapai lakukan terapi pemberian Fe. Pada wanita dengan anemia sedang yang Hbnya > 7 gr/dl tidak demam dan stabil tanpa resiko perdarahan berikutnya. Terapi Fe selama 3 bulan lebih baik dari transpusi darah.
3. Anemia Megaloblastik
Pemberian asam folat 1 mg/hari secara oral diet yang bergizi dan besi biasanya setelah 4 7 hari terapi dimulai, hitung retikulosit mulai meningkat dan leukopenia serta trombositopenia yang terjadi terkoreksi.



BAB III
TINJAUAN TEORITIS

A. Pengkajian
- Aktivitas/Istirahat
Kelelahan, malaise, penurunan semangat untuk bekerja kebutuhan untuk tidur/istirahat lebih banyak.
- Sirkulasi
Ada riwayat kehilangan darah kronis, palpasi (takikardia), pucat pada kulit, dan membran mukosa (konjungtiva, mulut, faring dan bibir).
- Integritas Ego
Cemas, penolakan transfusi darah.
- Eliminasi
Penurunan haluaran urine, distensi abdomen.
- Makanan/cairan
Penurunan masukan diet, mual-muntah, anoreksia adanya penurunan BB.
- Pernafasan
Nafas pendek pada istirahat dan aktivitas., takipnea dan dispnea.
- Keamanan
Demam rendah, berkeringat malam penyembuhan luka buruk, sering terindeksi.
- Seksualitas
Serviks dan dinding vagina pucat.


B. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler.
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak mampuan mencerna makanan/absobsi nutrien.
4. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakit.

C. Perencanaan
1. DX I
Intervensi :
- Awasi tanda-tanda vital, kaji pengisian kapiler warna kulit, membran mukosa
- Tinggikan kepala temapt tidur sesuai indikasi
- Berikan tranfusi darah sesuai indikasi
- Berikan oksigen sesuai indikasi
- Tambahkan pemasukan zat besi yang adekuat.
Rasional :
- Dapat memberikan informasi tentang derajat / kesehatan adekuatan perfusi ekspansi paru dan memaksimalkan oksigenasi untuk kebutuhan seluler
- Meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen, memperbaiki defisiensi untuk menurunkan risiko perdarahan
- Memaksimalkan transpor oksigen kejaringan
- Menambah pemasukan zat besi.


2. DX II
Intervensi :
- Kaji kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas
- Kaji kehilangan / gangguan keseimbangan gaya jalan, dan kelemahan otot
- Awasi TD, nadi, pernafasan, selama dan sesudah aktivitas
- Berikan lingkungan yang tenang dan pertahankan tirah baring, berikan klien istirahat yang cukup
- Gunakan teknik penghematan energi pada saat melakukan aktivitas.
Rasional :
- Mengetahui seberapa besar aktivitas yang tidak dapat dilakukan
- Mengetahui seberapa besar gangguan keseimbangan klien
- Mengetahui tanda-tanda vital klien
- Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan kerja jantung dan paru
- Mendorong pasien untuk melakukan aktivitas dengan membatasi penyimpangan energi.

3. DX III
Intervensi :
- Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai
- Observasi dan catata kejadian mual/muntah, status dan gejala lain yang berhubungan
- Berikan obat sesuai indikasi misalnya, vitamin dan suplemen mineral (vitamin B12, folat, asam askarbat)
- Berikan tambahan makanan yang mengandung zat besi.
Rasional :
- Mengidentifikasi defisiensi makanan
- Gejala G1 dapat menunjukkan efek kimia (hipotesia) pada organ
- Mengurangi defisiensi makanan
- Menambah pemasukan makanan yang mengandung zat besi.

4. DX IV
Intervensi :
- Kaji tingkat pengetahuan klien tentang penyakitnya
- Berikan informasi mengenai anemia, spesifik
- Anjurkan kepada klien untuk banyak mengkonsumsi makanan yang dapat memenuhi kebutuhan anemi
- Instruksikan pasien/orang terdekat tentang pemberian zat besi.
Rasional :
- Mengetahui seberapa besar pengetahuan klien tentang penyakitnya
- Memberi dasar pengetahuan pasien dapat membuat pilihan yang tepat
- Dapat meningkatkan absorbsi zat besi sehingga penting bagi pertumbuhan janin
- Peningkatan produksi zat besi yang adekuat.




BAB IV
P E N U T U P

A. Kesimpulan
Anemia merupakan suatu keadaan dengan kadar hemoglobin yang lebih rendah dari nilai normal, anemia pada ibu hamil terjadi bila kadar hemoglobinnya (Hb) dibawah 11 gr/dl.
Adapun diagnosa yang ditegakkan adalah :
1. DX I
Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler.
2. DX II
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan.
3. DX III
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak mampuan mencerna makanan/absobsi nutrien.
4. DX IV
Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakit.

B. Saran
Bagi ibu hamil yang mengalami anemia diharapkan untuk dapat mengkonsumsi banyak makanan yang mengandung zat besi, karena akan membantu pertumbuhan dan perkembangan janin.





DAFTAR PUSTAKA

- E. Doenges Marilyn, Rencana Askep edisi 3, EGC, Jakarta, 1999.
- Saifuddin, Abdul Bari, SPOG. Ilmu Kebidanan, Edisi ke 6, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, Jakarta, 2002.
- Mansjoer Arif. 2001. Kapita Selekta Kedokteran Jilid I, Edisi Ketiga. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran UI Jakarta.
- Sitorus, Ronald H, dkk. 1999. Perawatan Kesehatan Ibu dan Janin Selama Kehamilan. Bandung : CV. Pionir Jaya
- Hidayat. A. Azis Alimul. Riset Keperawatan, Edisi I, Jakarta : Salemba Medika, 2007
 

Most Reading

Tags